SORA NYANG DIA TAU HABIS (Suara yang tidak ada habisnya - Suara Nusantara)

Ctar… Ctar… Ctar…
Badai menghantam tanpa ampun. Petir membelah langit gelap seperti retakan yang tidak akan
pernah pulih. Di tengah hujan, raungan ekskavator dan mesin berat bersahutan, seperti makhluk
besar yang mengoyak bumi tanpa rasa.
Jauh di sana, pagi di Desa Batu terasa hangat. Matahari baru saja naik, cahayanya jatuh pelan ke
permukaan danau yang berkilau. Suara burung, riak air, dan angin berpadu seperti musik yang
akrab di telinga. Sekelompok anak berjalan di pinggiran danau.
Aden mengusap air mata, setengah mengantuk. “Alang… kemarin bilang sore. Atau aku yang
salah ingat?”
Ekot mendengus. “Kalau ternyata ini cuma alasan biar kita bangun pagi… bilang saja dari awal.”
Alang tertawa santai. “Tenang… kalau bukan penting. Suli tidak akan minta kita datang sepagi
ini.”
Belum sempat mereka protes, Suli muncul dari belakan dan menepuk pundak mereka satu per
satu. “Sudah… jangan pasang wajah seperti itu. Dari awal kalian tetap datang, kan.”
Tawa pecah. Seperti biasa Alang berceloteh panjang lebar, hingga… Ciprat!
Tubuhnya jatuh ke danau.
Aden menahan tawa. “Hah… kadang aku bingung. Kamu ini cerita atau butuh penonton?”
Ekot menggeleng kecil. “Makanya jangan kebanyakan ngomong… kan jadi gini.”
Tawa masih tersisa, tapi cepat berlalu. Suli yang sejak tadi hanya diam memperhatikan
melangkah maju dan menatap mereka satu per satu. “Nanti saat Pensi, kita bawa lagu apa?”
Aden menjawab tanpa ragu. “We Ipon saja, dari dulu selalu pakai itu.”Ekot menghela napas pelan. “Sape Uyau juga tidak kalah. Kenapa harus itu terus?.”
Aden menoleh. “Karena lagu itu yang paling kita kenal.”
Ekot tersenyum tipis. “Atau… karena cuma itu yang kamu mau dengar.”
Alang mengangkat tangan rendah. “Yang mana saja tidak masalah… tapi kita masih main
bareng, kan?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Suli menatap mereka bergantian. “Kalau dua pilihan saja kita berbeda… di panggung nanti apa
masih dengar yang sama?”
Perdebatan mulai muncul, suara meninggi. Hingga saling memotong, lalu berhenti. Bukan lagi
soal lagu, melainkan tentang siapa yang ingin di dengar.
Malam tiba. Lampu panggung menyala terang. Lentera bergoyang pelan tertiup angin. Sorakan
warga memenuhi Huma Betang rumah panjang yang menjadi pusat kehidupan desa. Nama
mereka dipanggil ( ASAE )
Langkah mereka terasa berat saat naik ke panggung. Suli mulai dengan petikan Sape yang
lembut, namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Gerantung Aden terlalu keras, Suling
Balawung Alang melenceng, Kecapi Ekot masuk tanpa arah.
Nada mereka tidak menyatu, seperti arah yang mereka pilih masing-masing. Penonton mulai
berlarian. “Berisik!”
“Apa-apaan ini?!”
Nada semakin kacau. Suli mencoba menahan tempo. “Jangan buru-buru… coba dengar dulu
bukan cuma ingin didengar.”
Namun tidak ada yang peduli. Irama yang dulu menyatu kini beradu, hingga satu nada jatuh
terlalu keras.
Aden menggenggam Gerantungnya erat. “Lucu sekali… kita berdiri di sini bersama. Tapi dari
awal cuma menunggu giliran bicara.”…
Brak!
Gerantung di tangannya terlepas.
Ekot membalas. “ kalau dari awal kita mau berhenti sebentar dan dengar… mungkin tidak akan
berakhir seperti ini.”
krak!
Suling Balawung di tangan Alang patah. “Jangan saling tunjuk… kita semua tahu, ini tidak
tiba-tiba terjadi.”
Untuk pertama kalinya mereka saling melukai. Tidak ada satu pun yang bertahan untuk
memperbaiki. Hari itu berakhir tanpa kata.
Keesokan harinya, Desa Batu masih sama, Danau Bulat tetap tenang seperti biasanya. Namun
mereka tidak, tak ada lagi tawa dan musik yang bergema di sela paginya.
Sampai hari itu tiba.
Raungan mesin terdengar dari kejauhan. awalnya samar, lalu semakin jelas.
Aden terpaku. Tatapannya jatuh ke Huma Betang lebih lama… seolah tempat ini bisa hilang .
Suli menghampiri dari samping. “Kalau kita diam… sama saja kita biarkan tempat ini hilang!.”
Alang datang, tanpa sadar berhenti di samping mereka. “ ini bukan hanya sekedar bangunan…
ini rumah kita semua!.”
Ekot menyusul dengan tergesa-gesa, mendengar keributan. “Jika ini hilang… kemanakah kita
pulang?”
Keheningan menyelimuti mereka… hening yang menyatukan. Bukan sebagai kawan, bukan pula
lawan, melainkan orang-orang yang akan kehilangan hal yang sama.
Kenangan muncul.Di pinggiran danau seorang anak menangis dengan Gerantung di sampingnya. Suli menoleh
melihat anak itu dan menghampirinya. “Sudah… kamu tidak harus kuat sendiri.”
Alang melangkah santai mendekat.”Hei.. Jangan menangis, nanti di kita kenapa-kenapa.”
Ekot menggerutu dari kejauhan. “ kalau mau ikut… ayo cepat, lama sekali.”
Anak itu terdiam menatap mereka.
Suli tersenyum ramah. “Nama kamu siapa? Namaku Suli, yang mengoceh tadi Alang dan Ekot
nama anak yang berwajah gelap di sana.”
Anak itu ragu, namun ia menggapai uluran tangannya. “Aden”
Tawa bergema, di pagi yang cerah itu. Suli berkata. “Nanti kalau ada yang jatuh… jangan di
tinggal.”
Alang menjawab malas. “Ya iyalah.”
Ekot mendengus. “Siapa juga yang mau jatuh.”
Aden mengangguk. “Janji.”
Sejak hari itu sebuah pertemanan terjalin.
Tanah bergetar menyadarkan lamunan yang ada. Debu beterbangan, mesin besar berlaluan
melewati mereka. Melihatnya, jiwa mereka berkobar untuk berjuang mempertahankan rumah
mereka. Perjuangan itu tidak berhenti suara mereka semakin keras, hingga suatu hari tragedi itu
terjadi.
Di dekat bagunan itu Aden berdiri terlalu dekat, sebuah mesin mendekat.
Suli melihat dan berlari ke arahnya. “Aden!”
Gema suaranya menarik perhatian orang-orang di sana, termasuk teman-temanya. Hingga…
Brak!
Aden yang terdorong menoleh. “Suli?”“Suli!”
Jeritan itu bersahutan, namun tidak mampu mengembalikan keadaan. Hujan turun perlahan,
seolah ikut berduka pada dunia.
Kejadian itu, menjadi api yang menyala terang di hati warga, kini mereka bersuara dengan hati
yang berkobar. Hari demi hari suara mereka semakin keras, hingga mesin itu berhenti. Aden
terus ikut dalam perjuangan itu bersuara bersama-sama. Namun tidak dengan Alang, sejak
kejadian itu ia menghilang tanpa kabar. Sementara Ekot dipulangkan ke rumah orang tuanya oleh
kakeknya setelah tragedi itu terjadi.
Huma Betang masih berdiri, Desa Batu kembali damai. Aden berdiri termenung menatap tempat
itu. “Suli… kita menang. Tapi mengapa rasanya tidak sama?”
Tidak ada yang menjawab, hanya angin yang berhembus pelan.
Jauh di suatu tempat, sebuah Sape tergeletak diam. namun nadanya masih terasa, seperti ada
yang tertinggal. Di Desa Batu empat nama itu masih ada. Tapi suara itu… tak lagi benar-benar
saling mendengar. (By. Kelaudia)
Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini